May
29
2017
     15:45

Aplikasi Cekgulaku dan Program Inhale: Upaya Penanggulangan Penyakit Tidak Menular

Contributor
Administrator 3
Attachment
— No Files —

Jakarta, 29 Mei 2017 – Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, kanker, penyakit paru kronik dan diabetes mellitus (DM) saat ini masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Keadaan ini tentu saja merupakan masalah penting dan menjadi beban dalam pelayanan dan pembangunan kesehatan di Indonesia.

“Ancaman PTM terhadap masyarakat di era modern sekarang ini semakin serius. Gaya hidup yang kurang baik seperti merokok, diet yang tidak sehat, maupun kurang aktivitas fisik merupakan beberapa faktor penyebab tingginya angka PTM di Indonesia. Banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah terkena PTM. Bahkan di Indonesia tingkat PTM khususnya DM tipe 2, Asma dan PPOK semakin meningkat dan dapat merugikan negara. Tentunya berbagai bentuk pengendalian PTM telah dilakukan pihak Kementerian Kesehatan, namun upaya tersebut tentu tidak akan berhasil tanpa dukungan lintas Pemerintah, Swasta, Organisasi dan seluruh lapisan masyarakat,” ujar dr. Lily Sulistyowati, MM, Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI.

Menyadari bahwa pentingnya kontribusi dalam mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan terkait permasalahan PTM, PT. Boehringer Ingelheim Indonesia sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan global, menghadirkan dua program kemitraan, yang pertama program edukasi mengenai DM dengan aplikasi digital yaitu CekGulaKU serta program edukasi berkelanjutan SMART Diabetes, dan yang kedua adalah program Initiative for Health Awareness, Liaising, & Empowerment (INHALE) yang diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam penanggulangan penyakit tidak menular khususnya penyakit Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

CekGulaKU adalah aplikasi mobile yang menyediakan berbagai informasi lengkap dan menarik mengenai DM tipe 2 dan rekomendasi gaya hidup sehat. Aplikasi yang diperuntukan untuk masyarakat umum khususnya penyandang diabetes ini dilengkapi dengan empat fitur utama yaitu Tes Risiko, Artikel informasi dari dokter ahli DM, Rekomendasi Menu Makanan dan Aktifitas Fisik. Terdapat juga fitur-fitur menarik lainnya seperti pencatat kadar gula darah, pemesanan obat secara online dan juga fitur pengingat jam makan, kapan harus mengkonsumsi obat dan melakukan aktivitas fisik.

dr. Mary Josephine, Medical Director PT Boehringer Ingelheim Indonesia menjelaskan, “Semua informasi yang terdapat di aplikasi ini sifatnya untuk mengedukasi dan tidak dimaksudkan untuk mengganti konsultasi dengan dokter. Kami berharap dengan adanya aplikasi CekGulaKU, kesadaran masyarakat akan penyakit DM semakin meningkat dan mereka mampu mengatur pola hidup sehat sehingga diharapkan angka kematian akibat PTM terutama DM tipe 2 terus menurun.”

Disamping menghadirkan aplikasi mobile CekGulaKU, PT. Boehringer Ingelheim Indonesia dan Kementerian Kesehatan juga melakukan pelatihan SMART diabetes untuk tenaga kesehatan di level primer (dilakukan di kota besar dengan pilot project di Jakarta) sebagai upaya peningkatan kompentensi tenaga kesehatan terhadap pencegahan dan penatalaksanan DM Tipe 2. Pelatihan SMART diabetes ini juga sebagai wadah memperkenalkan lebih jauh mengenai aplikasi CekGulaKU kepada tenaga kesehatan terkait dan merupakan bagian dari komitmen PT.Boehringer Ingelheim Indonesia dalam menghadapi masalah diabetes.

Maraknya penggunaan media digital telah mendukung sistem pelayanan kesehatan dengan lebih mudah dan terhubung seperti yang diharapkan pada industri yang lain. “Saat ini, kendala yang sering dihadapi para penderita DM di Indonesia adalah keterbatasan mendapatkan akses ke pusat pelayanan kesehatan. Melihat tingginya jumlah penderita DM dan terbatasnya dokter spesialis yang ada, akan menjadi beban yang cukup berat bagi tenaga kesehatan. Maka tidak bisa hanya dokter secara individual tetapi harus melibatkan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), PERSADIA (Persatuan Diabetes Indonesia) dan PEDI (Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan edukasi yang komprehensif. Dengan aplikasi CekGulaKU ini akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit DM di Indonesia melalui mobile application” ujar dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD – KEMD, dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

Selain DM, Asma dan PPOK juga merupakan penyakit kronis yang menyebabkan berkurangnya kualitas kehidupan ini menyumbang 10,7% dari seluruh penyebab kematian. Masing-masing penyakit tersebut memiliki prevalensi sebesar 4,5% dan 3,7% dari populasi Indonesia.

“Program INHALE merupakan sebuah program dimana pada daerah yang terpilih, untuk kali ini di daerah dengan prevalensi tinggi yakni Palu dan Kupang, akan dilakukan serangkaian kegiatan yang diharapkan dapat memperbaiki status kesehatan khususnya Asma dan PPOK. Mulai dari peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat setempat terhadap Asma & PPOK, dan juga peningkatan kesiapan alat kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga masyarakat lebih mudah untuk melakukan deteksi dini dan tindak lanjut dini apabila terjangkit,” jelas dr. Mary.

Dalam melakukan usaha penanggulangan Asma dan PPOK, tentu saja akan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak baik dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan pihak swasta. Saat ini, Kemenkes telah melakukan penguatan pelayanan kesehatan primer dalam usaha menyehatkan masyarakat. Sebagai pelayanan yang paling dekat dengan masyarakat, layanan primer akan sangat berpengaruh terhadap tingkat morbiditas PTM.

“Kita harus terus memantau kinerja dan kualitas layanan primer. Terutama mengenai Asma dan PPOK, apakah semua tenaga medis sudah paham perbedaan kedua penyakit kronik tersebut? Kompetensi para tenaga medis juga harus sesuai standar dan mereka harus paham apa saja tanda-tanda bahaya pasien, tindakan penanganan yang harus dilakukan dan seperti apa bentuk komplikasi yang mungkin terjadi,” ujar dr. Dianiati Kusumo Sutoyo, SpP(K), Anggota Kelompok Kerja Asma dan PPOK dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

“Sudah menjadi tugas kita untuk melakukan pencegahan terhadap PTM sejak awal. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan meningkatkan pendekatan Preventif dan Promotif dalam kebijakannya dengan mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Kesadaran masyarakat mengenai penyakit adalah salah satu penentu keberhasilan GERMAS, karena semakin tinggi kesadaran masyarakat akan risiko serta potensi bahaya dari penyakit, maka akan semakin tinggi upaya yang dilakukan untuk menghindari terkena penyakit tersebut,” jelas dr. HR Dedi Kuswenda, MKes, Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI

 


Contact Information 1:
Dias Bachtiar

dias.bachtiar@boehringer-ingelheim.com
+62 878-1970-4996