May
16
2017
     09:59

Inilah Hasil Observasi LIPI Terhadap Paus Mati Terdampar di Perairan Maluku

Inilah Hasil Observasi LIPI Terhadap Paus Mati Terdampar di Perairan Maluku
Publisher
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Contributor
Administrator 3
Attachment(s)
— No Files —

Maluku, 15 Mei 2017. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Augy Syahailatua menuturkan bahwa tim peneliti yang dikirim ke lapangan untuk mengobservasi hewan laut itu terdiri dari seorang peneliti dan dua orang teknisi. Mereka adalah Dharma Arif Nugroho (peneliti), La Pay (teknisi), dan Tri Widodo (teknisi). “Tim ini melakukan pengamatan, pengukuran, dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Mereka melakukan observasi pada pukul 18.43 WIT ketika kondisi air laut surut. Ini untuk memudahkan pengukuran dan pengambilan foto serta sampel dari tubuh hewan laut tersebut,” jelas Augy.

Dari hasil observasi itu, sebut Augy, diperoleh data bahwa bangkai hewan laut berposisi geografis 03?20’56,8” LS, 128?02’51,7” BT. Kemudian, data morfometri tubuh yang terekam adalah panjang tubuh 23,20 meter (m), lebar tubuh 6,50 m, panjang sirip dada 2,80 m, panjang sirip ekor 1,74 m, lebar sirip ekor 0,59 m, lebar seluruh sirip ekor 3,33 m, panjang tulang rahang bawah yang tampak 5,30 m, panjang rahang atas 3,73 m, lebar rahang atas 1,35 m, panjang ruas tulang dekat ekor 0,27 m, dan panjang ruas tulang dekat punggung 0,70 m.

Sedangkan secara visual, ciri karakter morfologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi hewan laut ini adalah sirip ekor, sirip dada, tulang kerangka tubuh, baleen yang terdapat pada rahang atas, guratan pada bagian dada dekat sirip dada. “Atas dasar ciri tersebut dapat dipastikan bahwa hewan laut yang terdampar adalah seekor Paus yang merupakan mamalia laut, sehingga informasi yang menyatakan bahwa hewan tersebut cumi raksasa adalah tidak benar,” klarifikasi Augy.

Adapun jenis paus yang terdampar tersebut cukup sulit untuk diidentifikasi karena bangkai yang tidak utuh lagi. Kesulitan dalam identifikasi ini juga dipengaruhi oleh posisi bangkai dengan bagian perut hingga dada berada di atas, sedangkan bagian punggung dan kepala berada di bawah. Kendati demikian, secara umum berdasarkan karakter yang masih nampak jelas berupa bentuk sirip dada (flipper), bentuk sirip ekor (flukes), rahang atas (rostrum), gurat perut (ventralpleats) dan adanya baleen serta tulang mandible menunjukkan Paus tersebut termasuk dalam kelompok sub-bangsa (subordo) Mysticeti, suku (family) Balaenopteridae, marga (genus) Balaenoptera.

Menurut Augy, penentuan jenis spesifik (species) tidak dapat dilakukan karena posisi tubuh bagian atas (punggung/dorsal) berada di bawah, sehingga tidak bisa melihat bentuk dan jumlah lubang hidung (blowhole) serta bentuk sirip punggung (dorsal fin). Selain itu panjang guratan perut juga tidak jelas karena bagian perut sudah tidak utuh lagi. “Selanjutnya penentuan jenis paus menunggu hasil uji DNA dari sampel yang telah diambil,” sambungnya.

Di lain hal, Augy memberi saran terhadap keberadaan bangkai Paus tersebut. Cara penanganan bangkai mamalia laut ini dengan menguburkannya. Lalu jika pemerintah daerah setempat berniat untuk mengkoleksi kerangka tulang paus, maka dapat menggali kembali dikemudian hari. “Alternatif lain yang dapat dilakukan dengan cara penenggelaman bangkai Paus di area luar tubir pantai, sehingga tidak mengganggu ekosistem terumbu karang yang biasanya terdapat di sekitar tubir pantai,” tutupnya. 

 


Contact Information 1:
Augy Syahailatua

humas@mail.lipi.go.id
0812 8832 515


Contact Information 2:
Administrator-1
KONTAN
admin1@kontan.co.id
021