May
31
2017
     17:06

Kejar Untung Boleh, Kelestarian Alam Tetap Prioritas

Publisher
Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan
Contributor
Administrator 3
Attachment
— No Files —

Jakarta, Kementerian LHK, Rabu, 31 Mei 2017. Pelaku wisata di Indonesia diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi dalam pengelolaannya, namun turut mengedepankan kelestarian dan keseimbangan keanekaragaman hayati. Berkurangnya keanekaragaman hayati juga telah menjadi salah satu penyumbang laju perubahan iklim di Indonesia.

“Banyak industri pariwisata di tanah air yang menjalankan usahanya tanpa memperhatikan dampak terhadap kelangsungan keanekaragaman hayati, lingkungan, dan perubahan iklim.” ujar Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto dalam Pojok Iklim, Jakarta, Rabu (31/5).

Agus mencontohkan, masih ditemukan tumpukan sampah plastik serta limbah di kawasan wisata, yang dapat merusak biodiversitas sekitarnya. “Sampah di obyek wisata ini harusnya bisa dikelola dengan baik, misalnya dengan membatasi penggunaan plastik di kawasan wisata dan sekitarnya,” kata Agus.

Selain itu, penyediaan lahan hutan untuk industri wisata juga harus memperhatikan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang baik, untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pengaruh pemanasan global dalam kenaikan temperatur permukaan laut di Indonesia diperkirakan mencapai 1,0 derajat celcius selama abad ke-20.

80 persen dari bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, yang diakibatkan perubahan iklim. Di awal abad ke-21, bencana ini menyebabkan 4.936 orang meninggal dan yang terkena dampak sekitar 17,7 juta jiwa.

Menurut Agus, penebangan ilegal, pembukaan lahan tambang, dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan yang tidak sesuai hasil Amdal adalah penyebab utama deforestasi yang dapat meningkatkan dampak perubahan iklim.

“Permasalahan ini sudah menjadi keterlanjuran di Indonesia. Karena itu, saat ini pemerintah mengedepankan tindakan korektif atas hal-hal yang terlanjur itu, seperti melalui kebijakan moratorium izin sawit baru dan penguatan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). Ini langkah-langkah yang harus diapresiasi sebagai salah satu solusi mengatasi masalah tersebut,” kata Agus.

Munculnya inovator-inovator muda di sektor lingkungan dapat meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam upaya memulihkan keanekaragaman hayati. “Pemerintah mengapresiasi dan terus akan bersama mereka bersama-sama menjaga dan memulihkan keanekaragaman hayati dan lingkungan,” tandas Agus.

Dalam kegiatan dengan tema “Keanekaragaman Hayati dan Pariwisata Berkelanjutan” ini, turut hadir Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) M.S. Sembiring, mitra KEHATI, dan musikus Idang Rasjidi.


Contact Information 1:
Djati Witjaksono Hadi
Kementerian Lingkungan Hidup
humaskemenhut@gmail.com
081375633330
Gedung Manggala Wanabakti, Blok 1 Lantai 1 Jalan Gatot Subroto, Jakarta 10270