May
12
2017
     10:14

LIPI Miliki Komitmen Tinggi untuk Konservasi Anggrek Indonesia

LIPI Miliki Komitmen Tinggi untuk Konservasi Anggrek Indonesia
Publisher
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Contributor
Administrator 3
Attachment(s)
— No Files —

Jakarta, 12 Mei 2017. Dalam usia yang menjelang dua abad, Kebun Raya Bogor terus menunjukkan kiprahnya sebagai lembaga konservasi flora Indonesia dari ancaman kepunahan. Salah satu contoh upaya menjaga flora dari ancaman kepunahan adalah pada spesies anggrek.

Kebun raya tertua di Asia Tenggara ini mempunyai komitmen kuat untuk konservasi jenis tanaman tersebut. “Kami memiliki rumah dan laboratorium anggrek dengan koleksi terlengkap di Indonesia. Ada sekitar 500 spesies dari total 5.000 spesies anggrek kawasan Malesia di Kebun Raya Bogor ini,” ungkap Kepala PKT Kebun Raya LIPI, Didik Widyatmoko.

Didik katakan, status konservasi beragam anggrek yang ada di Kebun Raya Bogor sebagian besar adalah langka atau terancam kepunahan (Kategori IUCN Red Data Book). Berbagai jenis anggrek tersebut ditemukan dari hutan-hutan alam di Indonesia dimana sekarang hutan juga terancam keberadaannya. Oleh karena itu, langkah konservasi penting yang terus dilakukan saat ini yakni dengan melakukan penemuan spesies baru, perbanyakan bibit, menggali manfaat serta reintroduksi ke habitat asal anggrek. “Dalam melakukan langkah itu, kami juga merangkul para stakeholders terkait, seperti Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), PT. Pos Indonesia, dan PT. Martina Berto Tbk,” tuturnya.

Di sisi lain, Didik mengatakan usaha konservasi dapat pula ditandai dengan dokumentasi jenis kekayaan anggrek di Indonesia lewat prangko. Momentum peringatan dua abad Kebun Raya Bogor kali ini, pihaknya juga menggandeng PT Pos Indonesia dan pihak terkait untuk meluncurkan seri prangko kekayaan anggrek Indonesia. Jenis anggrek yang dijadikan prangko dipilih berdasarkan asal atau area distribusinya serta keberadaan anggrek tersebut di Kebun Raya Bogor. “Prangko dua abad Kebun Raya Bogor seri 34 anggrek provinsi Indonesia merupakan lanjutan prangko “Negara Kesatuan RI dalam Puspa” yang digagas oleh Megawati Soekarno Putri saat meresmikan Griya Anggrek 2002,” jelas Didik.

Untuk diketahui, salah satu prangko anggrek yang akan diluncurkan pada saat peringatan ulang tahun ke-200 tahun Kebun Raya Bogor adalah Coelogyne marthae. Anggrek ini merupakan hasil eksplorasi dari Katingan, Kalimantan Tengah pada 2013 yang dilakukan oleh tim peneliti Kebun Raya Bogor dengan dibantu berbagai pihak terkait lain. Saat ini, Kebun Raya Bogor memiliki lima spesimen Coelogyne marthae yang ditempatkan di rumah kaca anggrek serta 30 dalam botol semai.

Khusus untuk pemberian nama Coelogyne marthae dinisbatkan kepada Dr. (H.C). Martha Tilaar oleh The national Herbarium of the Netherlands atas dedikasinya mendirikan Martha Tilaar Professorial Chair di Leiden University pada 2000, dan atas keberhasilannya membangun perusahaan kosmetik dan perawatan alami berdasarkan kearifan lokal yang diolah secara ilmiah untuk kebutuhan di kehidupan masa kini.

Dr. (H.C) Martha Tilaar melalui PT Martina Berto, Tbk bahkan membuat sabun berbentuk anggrek Coelogyne marthae yang sebagian dari hasil penjualannya didedikasikan untuk mendukung pelestarian anggrek berbasis komunitas di ekosistem Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta dan ekosistem karst di kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Hal ini mengingat potensi ancaman terhadap keberadaan anggrek Indonesia masih tergolong besar, baik karena bencana alam, alih fungsi lahan, atau pencurian sumber daya genetik. Untuk kerja sama ini, PT Martina Berto, Tbk berkolaborasi dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati  Indonesia (KEHATI).


Contact Information 1:
Didik Widyatmoko

humas@mail.lipi.go.id
0813 8238 5019


Contact Information 2:
Administrator-1
KONTAN
admin1@kontan.co.id
021