May
18
2017
     10:22

Unilever Perkenalkan Creasolv® Process untuk Daur Ulang Sampah Kemasan Sachet

Contributor
Administrator 3
Attachment
— No Files —

Jakarta, 17 Mei 2017 – Unilever hari ini mengumumkan terobosan terbarunya dalam hal teknologi daur ulang sampah yang dinamakan CreaSolv® Process1 . Sebuah teknologi ini yang mampu mendaur ulang plastik fleksibel atau kemasan sachet. CreaSolv® Process dikembangkan bekerja sama dengan Fraunhofer Institute di Jerman dan terinspirasi oleh inovasi yang digunakan untuk mendaur ulang perangkat televisi.

Miliaran kemasan sachet sekali pakai diproduksi setiap tahun, terutama di negara berkembang, dimana daya beli masyarakat pada umumnya belum dapat menjangkau produk kemasan besar. Tanpa solusi daur ulang, kemasan sachet berakhir di tempat pembuangan akhir atau sebagai sampah yang mengotori lingkungan, termasuk di lautan. Selaras dengan strateginya untuk mengembangkan bisnis seraya mengurangi jejak lingkungan dan meningkatkan dampak positif terhadap masyakat – yang tertuang dalam Unilever Sustainable Living Plan (USLP) - Unilever telah lama berkomitmen untuk menemukan alternatif untuk menanggulangi sampah kemasan plastik, termasuk kemasan sachet.

David Blanchard, Chief R&D Officer Unilever mengatakan, “Secara global, sebanyak $ 80-120 miliar hilang dari ekonomi karena gagal mendaur ulang plastik dengan benar setiap tahunnya. Dengan menemukan solusi yang tepat, ada peluang yang besar untuk menghemat pengeluaran yang berarti nilai lebih bagi bisnis.”

Unilever secara global telah berkomitmen untuk mengurangi berat kemasan produknya hingga sepertiganya pada tahun 2020; dan meningkatkan penggunaan konten plastik daur ulang di kemasannya minimal 25 % di 2025.

“Kami juga menargetkan seluruh kemasan plastik kami akan dapat didaurulang, digunakan kembali atau diurai di 2025. Pengembangan CreaSolv® Process merupakan langkah nyata untuk mencapai target tersebut. Kami ingin teknologi terobosan baru ini nantinya dapat dikembangkan skalanya, sehingga membawa manfaat bagi banyak pihak, termasuk perusahaan yang bergerak di industri yang sama dengan kami.”

Sancoyo Antarikso selaku Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia menyatakan, “CreaSolv® Process merupakan sebuah tonggak penting bagi Unilever, terutama berkaitan dengan komitmen kami untuk mengurangi dampak lingkungan. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah plastik fleksibel atau sampah kemasan sachet.”

Untuk mengatasi masalah sampah, selain teknologi yang tepat diperlukan pula skema pengumpulan sampah kemasan sachet agar dapat disalurkan untuk didaur ulang. Untuk itu, Unilever akan memberdayakan ribuan pemulung dan masyarakat, juga melakukan kerjasama dengan bank sampah, pemerintah serta pengecer lokal. Mekanisme ini akan diintegrasikan dalam sebuah model yang dapat meningkatkan pendapatan industri daur ulang dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas

“CreaSolv® Process memungkinkan sachets fleksibel untuk didaur ulang. Lebih dari 60% kemasan fleksibel terbuat dari polietilena, sehingga kami fokus mendaur ulang polietilena. Hasilnya adalah biji polietilena film (lapisan plastik) yang sepenuhnya dapat digunakan kembali. Residu film (lapisan plastik) dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan (misalnya palet plastik), dengan demikian akan tercipta pendekatan ekonomi yang sirkular – yakni limbah plastik akan menjadi bahan baku plastik lagi, alih-alih akan berakhir di tempat pembuangan atau di lingkungan. Dengan pendekatan ini, jejak lingkungan dapat ditekan; dan akan tercipta nilai ekonomi yang berpotensi menghasilkan peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat, industri daur ulang dan pemangku kepentingan,” ungkap Sancoyo

Anton Harjanto selaku Head of Circular Economy, Manufacturing Sustainability and Renewable Energy SEAA Project Unilever menjelaskan, “Saat ini kami telah membuka pabrik percontohan CreaSolv® Process di Jawa Timur. Kami akan melakukan percobaan untuk menguji efektifitas teknologi ini agar dapat dioperasikan untuk skala komersial untuk jangka panjang. Pada tahap awal atau uji coba, teknologi ini bisa berpotensi menyerap 3 ton sampah kemasan plastik fleksibel bersih per hari. Sementara pada skala komersial, teknologi ini berpotensi mengurangi dampak CO2 sebesar 7.800 ton per tahun untuk setiap unit operasi, setara dengan 8.200 ton plastik fleksibel, karena produksi polimer yang dipulihkan akan menyebabkan berkurangnya penggunaan polimer baru. Oleh karena itu, teknologi ini merupakan solusi paling eko-efisien (sumber referensi WRAP report 2008 : Findings of End of life treatment options).”

Salah satu tantangan terbesar Unilever dalam hal daur ulang ada pada sulitnya mengumpulkan sampah kemasan sachet. Saat ini kebiasaan masyarakat memilah sampah masih belum terbentuk. Untuk itu sinergi antara semua elemen masyarakat untuk membantu Unilever dalam hal pengumpulan sampah menjadi sangat penting.

Ir. Ilyas Asaad, MP, MH selaku Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menyatakan, ”Komitmen Unilever dalam lingkungan sangat sejalan dengan ambisi kami untuk menciptakan Indonesia bebas sampah pada tahun 2020. Untuk itu, kami senang sekali bisa berkolaborasi dengan Unilever dalam menyukseskan CreaSolv® Process. Dalam kesempatan ini kami menghimbau semua elemen masyarakat untuk bersinergi dalam menyukseskan tujuan ini.”

Selama bertahun-tahun, Unilever telah secara konsisten melakukan berbagai macam inisiatif program lingkungan di Indonesia, seperti mengaktifkan program Green and Clean pada tahun 2001, membuat program TRASHION sejak tahun 2006 dan hingga tahun 2017 Unilever telah mengembangkan 1.400 bank sampah di 12 provinsi, di 17 kota. Bank sampah ini telah mengumpulkan hingga 1.800 ton limbah anorganik, menghasilkan omzet 1,1 miliar rupiah dari penjualan limbah ini ke industri daur ulang.

“Kami berharap semua elemen masyarakat dapat mendukung inisiatif yang kami lakukan, sehingga kita akan bersama-sama bisa menciptakan Indonesia yang hijau, Indonesia yang bebas sampah di masa mendatang,” tutup Sancoyo.

Tentang PT Unilever Indonesia Tbk

PT Unilever Indonesia Tbk telah beroperasi sejak tahun 1933 dan telah menjadi perusahaan fast moving consumer goods terdepan di pasar Indonesia. Unilever Indonesia memiliki 39 brand yang terbagi dalam 4 kategori, Personal Care, Home Care, Food dan Refreshment. Unilever Indonesia telah ‘go public’ pada tahun 1982 dan sahamsahamnya tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Unilever berkomitmen tinggi untuk tetap melaju dan maju bersama Indonesia. Untuk tahun buku 2016, penjualan bersih perusahaan mencapai lebih dari Rp 40 triliun, meningkat 9,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sedangkan laba bersih tumbuh 9,2% YoY menjadi Rp 6,4 triliun.

Unilever memiliki sembilan pabrik yang berada di Cikarang dan Rungkut. Pada tahun 2016, seluruh pabriknya telah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Secara global, pada tahun 2010 Unilever meluncurkan Unilever Sustainable Living Plan, strategi untuk meningkatkan bisnisnya dua kali lipat seraya mengurangi setengah dampak lingkungan yang ditimbulkan dan meningkatkan dampak sosial bagi masyarakat. USLP memiliki tiga tujuan utama:

1. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan 1 milyar orang pada 2020

2. Mengurangi setengah dari dampak lingkungan yang dihasilkan dari operasi bisnisnya pada 2030

3. Meningkatkan penghidupan jutaan orang pada 2020

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai capaian USLP silahkan kunjungi : https://www.unilever.co.id/sustainableliving/ dan untuk informasi lainnya tentang Unilever Indonesia dan brand, silahkan kunjungi www.unilever.co.id


Contact Information 1:
Maria Dewantini Dwianto

maria-dewantini.dwianto@unilever.com
+6221 8082 7000